Selasa, 22 Disember 2009

SIKAP KEPIMPINAN DAN REALITINYA.....











Air Mata Umar
By: agussyafii

Cerita kegemaran anak-anak Amalia adalah air mata Umar Bin Khattab. Air mata Umar Bin Khattab mengisahkan tentang kebiasaan Umar Bin Khattab, sang khalifah yang pada malam hari suka berkeliling di kota Madinah untuk memantau keadaan rakyatnya. Sampailah pada suatu malam, tiba-tiba mendengar suara tangisan anak-anak disebuah gubuk., karena penasaran Umar mendekati gubuk itu, 'Assalamu'alaikum, ' salam Umar Bin Khattab. Dari dalam rumah terdengar menjawab salam, Wa'alaikum salam,' jawab seorang perempuan tua dengan lembutnya sambil mempersilahkan masuk. Alangkah kagetnya Umar menyaksikan tiga anak yang terus menangis sambil memegang perut diatas dipan yang sudah reot. Melihat keadaan seperti itu air mata Umar Bin Khattab mengalir begitu saja tanpa terasa.


Kemudian dia bertanya kepada perempuan tua itu. 'Mengapa mereka menangis?' Mereka kelaparan, kedua orang tuanya sudah tiada sementara saya sudah tidak sanggup lagi untuk membeli makanan untuk mereka. Sejak kedua orang tua mereka meninggal sudah tidak ada lagi yang menjenguknya, ' ucap perempuan tua dengan wajah bersedih. 'Bukankah ibu sedang menanak makanan?' tanya Umar terheran. Lalu perempuan itu menjawab, 'Saya telah membohongi mereka, bukan gandum yang saya tanak melainkan batu agar mereka berhenti menangis.' Umar nampak terkaget-kaget. 'Batu?' kata Umar tak lagi mampu menahan perih didadanya, hatinya terluka bagai disayat menyaksikan penderitaan yang dialami anak-anak yatim paitu dan seorang nenek tua itu. Air mata itu tak terbendung lagi, Umar Bin Khattab bergegas pamit meninggalkan mereka. Disaat di rumah Umar segera mengambil air wudhu untuk sholat dan berdoa, 'Ya Alloh, ampunilah hambaMu ini yang telah melalaikan mereka, Izinkan hamba menebus semua kesalahan.' Dengan secepatnya Umar Bin Khatttab mengambil sekarung gandum, sekantong roti dan susu segar untuk diserahkan kepada anak-anak yatim piatu dan nenek yang membutuhkannya. Tak lama kemudian ketiga anak itu disuapinya oleh neneknya. Anak-anak terlihat lahap makannya. Nenek itu bercerita, ketika kedua orang tua masih hidup cinta dan kasih sayangnya kepada mereka bertiga senantiasa disuapi. Setiap suapannya dihasi dengan senyuman yang indah dari ayah dan ibunya.


Sejak peristiwa itu Umar Bin Khattab berjanji tidak akan pernah ada lagi penduduk dinegerinya yang kelaparan. Dari kisah air mata Umar Bin Khattab ini memiliki pesan bahwa perasaan bersalah pada diri Umar karena merasa lalai karena ada penduduk negerinya yang kelaparan. Perasaan bersalah inilah yang kemudian ditebus oleh Umar dengan tekadnya untuk memperbaiki sistem yang ada. Konon di masa Umar Bin Khattab inilah Baitul Mal sebagai lembaga negara berfungsi dengan baik untuk membantu mengentaskan kemiskinan pada waktu itu. barangkali banyak hal teladan dari Umar Bin Khattab yang masih relevan untuk negeri kita yang tercinta bagaimana kita menghadapi krisis dewasa ini.


Wassalam




ULASAN SAYA:


Alangkah indah dan moleknya andai kepimpinan kita sekarang seperti zaman para sahabat. Keindahan ISLAM dan ketakwaan lebih diutamakan, takut akan tanggugjawab tidak terlaksana sehingga dikhabarkan jawatan “Pemimpin” tidak berani diambil ataupun diminta oleh para sahabat Rasulullah. Takut akan azab Allah S.w.t, tetapi zaman sekarang jawatan ini menjadi rebutan. Kalau dahulu masyarakat kita sering menyertai bebarapa perlumbaan seperti marathon atau jogathon, tetapi sekarang ramai masyarakat kita yang mula menyertai satu lagi perlumbaan yang dikenali sebagai “YB THON”.


Pada mereka menjadi YB adalah batu loncatan kepada kekayaan. Kita tidak sesekali menyalahkan YB yang tahu dan faham akan tanggungjawabnya, yang menjadi kemarahan kepada kita adalah YB yang hanya tahu sunglap duit rakyat, mengabaikan tanggungjaawab terhadap rakyat dan yang paling penting takut bercakap benar dan tidak mengaku kesilapan atau kesalahan mereka sehinggakan sikap seperti ini menjadi beban yang teramat berat untuk dipikul oleh rakyatnya. Pada YB yang bekerja kerana rakyatnya, kami sentiasa berterima kasih dan menyokong beliau. Dalam posting saya yang lalu, takrifan wakil rakyat dan pemimpin telah saya sentuh, adalah pada saya menjadi satu kesedihan apabila ada dikalangan kita yang masih kabur akan tanggungjawab pemimpin kepada rakyatnya. Kita undi maka kita ada hak pertahankan daripada terus di tindas. Fikirkanlah....Moga cerita diatas menjadi iktibar kepada mereka yang bercita-cita menjadi YB.

Catat Ulasan

pesanan

Penafian:Penulis blog paikankb tidak akan bertanggungjawab terhadap sebarang kehilangan atau kerosakan, Segala komen atau ulasan, fakta berunsur hasutan yang dialami kerana melayari atau menggunakan maklumat dalam blog ini.

  © Blogger template PingooIgloo by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP